
Sebulan nggak bersentuhan dengan internet, kemarin saya dikejutkan dengan berita bahwa Ayu Utami (Penulis Saman, Larung, Bilangan Fu) yang sempat mendeklarasikan dirinya tidak akan menikah, akhirnya menikah juga di pertengahan Agustus lalu. Sejenak tertegun dan berpikir apa yang merubah pikirannya? Saya langsung memutuskan membongkar kardus2 novel lama, dan saya temukan salah satu Kumpulan Esainya yang berjudul Si Parasit Lajang : Seks, Sketsa, dan Cerita.
"Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain." Ayu Utami
Saya membaca buku ini sekitar tahun 2007, dan ini adalah salah satu buku yang membuka pikiran saya bahwa siklus kehidupan tidak hanya berputar pada lahir-sekolah-bekerja-menikah-punya anak-lalu meninggal. Ada opsi lain bahwa manusia, disini khususnya wanita, memiliki pilihan untuk tidak menikah, hidup sendiri, dan tetap bahagia. Kemantapan seruan Ayu Utami yang menyatakan dirinya tidak akan menikah, membuat saya berpikir kembali mengenai bagaimana saya akan menjalani kehidupan saya nantinya.
Mengetahui keputusannya telah berubah 180 derajat, membuat saya (sebagai salah seorang yang mendukung keputusannya untuk tidak menikah) agak kecewa, awalnya. Banyak pihak pula yang 'menertawakan' ketidakkonsistenannya tersebut. Namun, dari beberapa twit beliau saya dapat menemukan bahwa semangat yang diusungnya untuk kemerdekaan wanita belumlah berubah.
Mencoba berpikir kembali, saya rasa menikah disini hanyalah metafora.
Menikah (dipukul rata) sebagai bentuk ketidakberdayaan wanita akan lingkungannya dan kepasrahan akan kentalnya ketidaksetaraan jender yang akhirnya memojokkan wanita-wanita yang memutuskan tidak menikah. Inilah ide utama yang saya tangkap dari seruan Ayu Utami tersebut, seruan agar wanita tidak berdiam diri dan memperjuangkan haknya.
Apabila menikah (di benak tiap-tiap orang, tidak hanya Ayu Utami) benar-benar dipukul rata memiliki arti yang demikian, saya rasa akan banyak Ayu Utami-Ayu Utami lain yang akan bermunculan.
Perkara akhirnya menikah atau tidak, saya amini sebagai keputusan hidup beliau. Sebagai pembaca dan pendengar, saya hanya bisa berpikir agar tidak terjebak pada metafora tersebut, karena Ayu Utami sebenarnya masih mengusung ide awal yang ia suarakan. Dengan demikian, dalam hal ini, ia masih 'tidak menikah'.
Akhir kata, saya kutip twit dari Mustika T. Yuliandri, seseorang yang tidak saya kenal, namun saya setujui pemikirannya.
Jika sy tidak menikah, itu adl ajakan spy peremp tak takut utk sendiri. Jgn takut jadi perawan tua atau jadi tidak perawan. @ester_kotel
Jk sy tidak menikah, itu adl ajakan utk mbebaskan diri dari tekanan sosial yg memandang kurang peremp lajang. @ester_kotel
Jk sy menikah, tentulah dgn hukum yg tidak diskriminatif jender. Krn itu sy tidak menikah dlm hukum negara ini. @ester_kotel
Ketidakmenikahan sy adl tindakan politik. Kemenikahan sy adl tindakan iman. @ester_kotel @mitahapsa
Sblm ini, sy mprjuangkan agar prmp bebas dr rasa takut tidak menikah, jd perawan tua/ tdk perawan sblm nikah. @PerempuanThicka @ester_kotel
Skrg waktunya mperjuangkan agar UU Perkawinan mnjadi adil jender. @PerempuanThicka @ester_kotel
Waktunya memperjuangkan agar perempuan dihargai di dlm maupun di luar perkawinan.
Mencoba berpikir kembali, saya rasa menikah disini hanyalah metafora.
Menikah (dipukul rata) sebagai bentuk ketidakberdayaan wanita akan lingkungannya dan kepasrahan akan kentalnya ketidaksetaraan jender yang akhirnya memojokkan wanita-wanita yang memutuskan tidak menikah. Inilah ide utama yang saya tangkap dari seruan Ayu Utami tersebut, seruan agar wanita tidak berdiam diri dan memperjuangkan haknya.
Apabila menikah (di benak tiap-tiap orang, tidak hanya Ayu Utami) benar-benar dipukul rata memiliki arti yang demikian, saya rasa akan banyak Ayu Utami-Ayu Utami lain yang akan bermunculan.
Perkara akhirnya menikah atau tidak, saya amini sebagai keputusan hidup beliau. Sebagai pembaca dan pendengar, saya hanya bisa berpikir agar tidak terjebak pada metafora tersebut, karena Ayu Utami sebenarnya masih mengusung ide awal yang ia suarakan. Dengan demikian, dalam hal ini, ia masih 'tidak menikah'.
Akhir kata, saya kutip twit dari Mustika T. Yuliandri, seseorang yang tidak saya kenal, namun saya setujui pemikirannya.
"Saya memperjuangkan kebahagiaan. Kalo perawan tua dan tidak perawan bisa membahagiakan itu sudah cukup."