Friday, August 26, 2011

Si Parasit Lajang


Sebulan nggak bersentuhan dengan internet, kemarin saya dikejutkan dengan berita bahwa Ayu Utami (Penulis Saman, Larung, Bilangan Fu) yang sempat mendeklarasikan dirinya tidak akan menikah, akhirnya menikah juga di pertengahan Agustus lalu. Sejenak tertegun dan berpikir apa yang merubah pikirannya? Saya langsung memutuskan membongkar kardus2 novel lama, dan saya temukan salah satu Kumpulan Esainya yang berjudul Si Parasit Lajang : Seks, Sketsa, dan Cerita.


"Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain." Ayu Utami

Saya membaca buku ini sekitar tahun 2007, dan ini adalah salah satu buku yang membuka pikiran saya bahwa siklus kehidupan tidak hanya berputar pada lahir-sekolah-bekerja-menikah-punya anak-lalu meninggal. Ada opsi lain bahwa manusia, disini khususnya wanita, memiliki pilihan untuk tidak menikah, hidup sendiri, dan tetap bahagia. Kemantapan seruan Ayu Utami yang menyatakan dirinya tidak akan menikah, membuat saya berpikir kembali mengenai bagaimana saya akan menjalani kehidupan saya nantinya.

Mengetahui keputusannya telah berubah 180 derajat, membuat saya (sebagai salah seorang yang mendukung keputusannya untuk tidak menikah) agak kecewa, awalnya. Banyak pihak pula yang 'menertawakan' ketidakkonsistenannya tersebut. Namun, dari beberapa twit beliau saya dapat menemukan bahwa semangat yang diusungnya untuk kemerdekaan wanita belumlah berubah.


 Ayu Utami 

@ 

 Ayu Utami 

@ 
 Ayu Utami 

@ 
 Ayu Utami 

@ 
 Ayu Utami 

@ 
 Ayu Utami 

@ 
 Ayu Utami 



Mencoba berpikir kembali, saya rasa menikah disini hanyalah metafora.
Menikah (dipukul rata) sebagai bentuk ketidakberdayaan wanita akan lingkungannya dan kepasrahan akan kentalnya ketidaksetaraan jender yang akhirnya memojokkan wanita-wanita yang memutuskan tidak menikah. Inilah ide utama yang saya tangkap dari seruan Ayu Utami tersebut, seruan agar wanita tidak berdiam diri dan memperjuangkan haknya.
Apabila menikah (di benak tiap-tiap orang, tidak hanya Ayu Utami) benar-benar dipukul rata memiliki arti yang demikian, saya rasa akan banyak Ayu Utami-Ayu Utami lain yang akan bermunculan.
Perkara akhirnya menikah atau tidak, saya amini sebagai keputusan hidup beliau. Sebagai pembaca dan pendengar, saya hanya bisa berpikir agar tidak terjebak pada metafora tersebut, karena Ayu Utami sebenarnya masih mengusung ide awal yang ia suarakan. Dengan demikian, dalam hal ini, ia masih 'tidak menikah'.

Akhir kata, saya kutip twit dari Mustika T. Yuliandri, seseorang yang tidak saya kenal, namun saya setujui pemikirannya.

"Saya memperjuangkan kebahagiaan. Kalo perawan tua dan tidak perawan bisa membahagiakan itu sudah cukup." 

Thursday, July 14, 2011

Jamu

Pagi ini dimulai dengan kemageran luar biasa. As always bangun telat karena keinginan diri sendiri. Berangkat dari kosan langsung ngeliat ada mbak2 jamu lagi jalan di gang. Sempet bingung beberapa detik, akhirnya aku memutuskan buat manggil mbaknya.
Begitu mendekat ke mbaknya, dia langsung nawarin macem2 "Beras kencur, kunyit asem, jamu galian montok, sehat wanita, ada mbak. Ada gorengan juga, marning, emping, blablabla". Aku bilang "ga mbak, beras kencur aja". Si mbak bilang, "Mau gelas kecil atau dibungkus?". Aku belum jawab si mbaknya udah jawab sendiri, "Dibungkus aja ya." (Yang lebih kepada pernyataan bukan pertanyaan) Yah, akhirnya aku bilang iya.
Selama mbaknya ngebungkus aku tanya, "Berapa to mbak?". "3ribu", jawab mbaknya. Shock, jamu termahal seumur hidup perasaan 2ribu itu juga 2gelas. :O
Yah, mau gimana lagi, akhirnya aku keluarin uang 5ribu (karena emang ga ada 3ribuan). Si mbaknya ngeberondong lagi "2ribunya ga mau buat beli gorengan, marning, empingnya mbak?" (dengan nada setengah memaksa). Aku bilang, "Nggak mbak". (dengan nada penuh kepastian. huwwoo) Habis itu dikasihlah plastik jamunya ke aku.
Sialnya tanganku lagi super penuh. Tas ransel, dompet kebuka, kunci kosan, sekotak martabak, akhirnya karena memang tangannya ga sebanyak tangan ganesha, jatuhlah si plastik jamu berkeping2. T.T
Menurut pengalaman, kalo kecelakaan macam begitu di dekat penjualnya, beberapa penjual berinisiatif mengganti barang yang jatuh dan ga bisa dimakan itu tadi, gratis. Jadi berharap banyaklah aku sama si mbak jamunya. (Yang mana sebenarnya tidak boleh terlalu berharap banyak pada apapun). Diganti sih memang, dengan gesitnya si mbak jamu ngebungkusin jamu jilid 2. Tapi aku bayar lagi. T.T (Yang mana sebenarnya aku mikir mendingan ga jadi beli jamu aja kalo bayar lagi, mengingat uang di dompet tinggal 8ribu sekian ratus). Telanjur dibungkusin tapi mau apa.
Kesel sama mbaknya, aku jalan cepet2 deh, mendingan ga usah liat mbaknya lagi. Seruputan pertama mengatakan kalo itu kunyit asem. Helloo, aku pesennya beras kencur mbak.
Aku tanya ke mbaknya "Mbak ini kunyit asem ya? Saya kan pesennya beras kencur?". Mbaknya cuma senyum, manis sekali.
6ribu, untuk jamu yang tidak diharapkan, yang mana uangnya sebenernya cukup untuk 1 kali makan siang.
Sekian, terima kasih.




Monday, July 4, 2011

Super Random

pengen karaokean, tapi ga ada yang bisa diajak.
pengen karaokean sendirian, tapi ga mau miskin, dan lagi ga pengen sendiri.
pengen tidur, guling2 di kasur, daydreaming.
pengen wasting time on nothing.
pengen rajutan yang lagi dibuat cepet selesai.

lagi bosen sama kerjaan, monoton.
butuh sharing time.
butuh tempat bergantung.
butuh kedamaian.
sedang tidak ingin bersama orang2 yang suka mengeluh tentang segala sesuatu.
sedang butuh optimisme.
butuh playlist yang bisa mendeteksi perasaan lalu memutarkan lagu yang tepat.
ingin jam kantor segera berakhir.

suatu hari akan menemukan pekerjaan yang menyenangkan, dan akan mengerjakannya dengan sepenuh hati.
suatu hari akan menemukan seseorang untuk bergantung.
suatu hari akan menemukan kedamaian sejati dari dalam hati.
suatu hari akan punya ruang karaoke sendiri di rumah.
suatu hari saya akan bersyukur terhadap kebosanan saya hari ini.

kerandoman hanya karena pengen karaokean.

Friday, July 1, 2011

Mari Berpikir

Laptop error lagi. Yang bisa dibuka cuma internet dan playlist. Baguslah. Tapi ga begini juga. Capek instal ulang lagi. T.T Sambil membunuh waktu, mari kita berpikir.

Akhir2 ini aku merasa manusia semakin kehilangan kemanusiaannya. Dengan berkembang pesatnya teknologi, telepon genggam, internet, videocall, dan sebagainya, manusia semakin mudah terhubung dengan dunia2 lain yang dahulu tidak terjangkau, tapi semakin terpisah dari dunia yang sebenarnya ada di depannya.

Sebagai contoh, pernah suatu kali aku melihat sepasang suami istri yang terbilang cukup berumur, berdiri bersebelahan. Karena posisi mereka berdiri adalah di depan suatu gedung, aku hampir yakin bahwa mereka sedang menunggu supir mereka datang menjemput. Aku rasa waktu yang dibutuhkan untuk menunggu supir datang tidak selama itu, sehingga akan sangat wajar jika mereka menggunakan waktu itu untuk berbincang satu sama lain, bergandengan tangan, bertukar pikiran, dan lainnya hal2 yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Tapi bukan hal itu yang aku lihat, melainkan mereka berdua yang sibuk dengan Blackberrynya masing2. Berdiri bersebelahan, namun mereka masing2 berada di dunia yang berbeda. Melihat itu, entah kenapa aku ingin menangis (*emosi yang muncul tidak beralasan), bahkan ketika menulis ini pun rasanya sedih.

Hal yang juga berpengaruh terhadap kejadian semacam ini adalah berkembangnya twitter, bbm, dan media2 komunikasi dunia maya lainnya. Twitter misalnya, secara tidak langsung 'memaksa' penggunanya untuk menuliskan dia sedang melakukan apa, dimana, dengan siapa (oops, jadi kaya lagu kangen band - - "). Maka, tidak heran sering muncul status2 seperti "Lagi di anu dengan @ini, @itu, @ono" atau "Lagi nonton film xyz" dan sebagainya. Tanpa bermaksud menyudutkan siapapun, ini hanya pikiranku saja. Status2 semacam ini kadang2 menurunkan kualitas peristiwa yang sedang terjadi itu sendiri. Status2 semacam ini, sudah pasti diketik ketika peristiwa itu berlangsung (karena jika ditulis setelahnya sudah dianggap basi), waktu yang digunakan untuk mengetik, melihat reply, menjawab, dan seterusnya itulah yang secara tidak sadar mengurangi kualitas peristiwa yang sedang terjadi. Secara tidak sadar, kita tidak 100% berada KINI dan DISINI. Akhirnya, banyak hal2 yang terskip, banyak hal2 yang tidak benar2 kita jalani, kita nikmati dan sebagainya.

Pemikiran yang lain. Twitter, handphone, dan teman2nya itu kini sering aku temui digunakan sebagai media pelarian. Ketika sedang berada di situasi yang tidak menyenangkan, bersama seseorang yang tidak menyenangkan pula, telepon genggam dan twitter bisa digunakan sebagai "kambing hitam" tidak bisa banyak berinteraksi dengan orang yang 'tidak diinginkan' tersebut. Padahal, pada awalnya semua orang memang tidak mengenal satu sama lain, pada awalnya semua tidak cocok satu sama lain. Menurutku memang butuh proses untuk kenal, tahu, lalu baru menjadi dekat. Namun, jika proses tersebut diskip dengan asik berkomunikasi (lewat dunia maya) dengan seseorang yang sudah dikenal, bagaimana bisa kita mengenal orang baru dan melepaskan diri dari 'zona aman'?

Mungkin secara tidak sadar, aku juga pernah melakukan hal tersebut. Tidak munafik, jika lagi sendirian aku juga menggunakan dunia maya sebagai sarana agar tidak merasa kesepian. Tapi sebisa mungkin ketika lagi sama orang lain, aku tidak banyak2 berhubungan lewat telepon genggam.
Karena aku tahu, sedih rasanya ketika lagi bersama orang dan dia lebih asik dengan handphonenya daripada dengan kita. Simpel saja, karena aku tidak suka dibegitukan, aku tidak ingin begitu terhadap orang lain.
Inti dari segala macam pikiran berkepanjangan ini :
1. menjadi KINI dan DISINI 100% itu sangat penting
2. mari lebih banyak berkomunikasi dengan manusia daripada dengan benda mati

*sebuah catatan untuk diri sendiri di masa depan dimana akan lebih banyak benda mati yang 'hidup'

Thursday, June 30, 2011

Satu Lagi

Selalu, setiap bepergian lama sama temen, ada 1 hal yang sangat berbeda. Si temen yang bisa siapapun itu, selalu sangat sering dihubungi orang tuanya, ditanya udah makan atau belum, uangnya cukup atau ga, ditanya pergi kemana seharian, ngapain aja, dibilang jangan pulang malem2, kalau ada apa2 kabarin segera, blahblahblah.
Dan selalu, ga ada yang nelepon aku untuk menanyakan hal2 itu.
Kadang bahagia sih, merasa positif karena aku merasa mampu menjalani semua sendiri, merasa sudah dianggap mandiri, merasa bangga sama diri sendiri karena bisa memutuskan ini butuh atau ga, ini harusnya begini atau begitu, dan sebagainya. Tapi tetep, kadang pengen juga ditelepon, ditanya sekedar apa kabar.

The Show

I'm just a little bit caught in the middle
Life is a maze and love is a riddle
I don't know where to go I can't do it alone I've tried
And I don't know why
I am just a little girl lost in the moment
I'm so scared but I don't show it
I can't figure it out
It's bringing me down I know
I've got to let it go
And just enjoy the show 

Lagi suka lagu ini, aku puter aja berkali-kali. Selalu begitu, kalo lagi suka 1 lagu diputer terus bisa seharian, sampe bosen sama sekali, yang biasanya butuh waktu lama (untuk bosennya). - - "
Beberapa hari terakhir merasa lost in the moment, gatau kenapa. Hal yang paling aku kangenin, setelah hampir sebulan ada di tempat yang jauh ini, bukan orang, bukan rumah. Tapi kamar kosan di Depok. Menyedihkan. Haha
I need a 'trash can', but there's no one that empty enough to be that. Tired.

Monday, June 27, 2011

Install Ulang

Sekitar 4 hari yang lalu, si laptop tersayang kena virus. Dugaan sementara sih kayanya kena virus dari mac temenku, berhubung setiap habis dicolok USB dari dia, virusnya mulai berkembang biak. T.T
Ada kali karena ini instal ulang sampai 4-5 kali. Mau nangis, iya. Tapi ga nangislah, ga penting banget.. hehe..
Akhirnya setelah 2 hari (kerja praktek) berjalan dengan gabut alias gaji buta (*padahal belum tentu digaji juga T.T) hari ini si laptop sudah terlahir kembali, semoga dia lebih sehat ya..
Install ulang kali ini bikin aku sadar kalo di laptop kebanyakan banget hal-hal menyenangkan, bukannya yg buat belajar. Misalnya file film sampai 180an GB. (*maunya apa?), file lagu (yang bahkan aku gatau semua lagu2nya) sampai 20 GB, estimated time kalo diputer semua sampai 341an jam (bisa buat nemenin begadang 1 semester ini mah). Sedangkan file ttg data kuliah cuma 9 GB. Miris.
Beneran, kadang pengen jadi orang yg serius kuliah, file data kuliahnya bergiga2.. Haha. Tapi setelah dipikir lagi i'm not that type of person. Merasa cukup senang dengan santai begini (santai bukan berarti ga maju-maju ya). Santai dan tetap berkembang dengan caraku sendiri. Ini lebih menyenangkan. :D
Wish me luck ya buat kerja praktek ini, semoga (masih) satu bulan ke depan aku bisa belajar banyak, berpikir banyak, berkembang banyak, berkarya banyak.