19 January 2009

Jika aku..

Jika aku seorang anggota Hamas,
Mungkin aku tidak akan berada disini, sekarang, untuk menulis email ini
Karena jaringan internet belum tentu tersedia
dan internet adalah kemewahan,
Karena aku mungkin lebih memilih berada di luar untuk melempar batu
atau bersembunyi di bawah tempat tidur,
Ah, aku belum tau seberapa jauh keberanianku
Toh mungkin saja aku sudah mati
Mati sebagai martir, pahlawan, pejuang Allah
paling tidak di mata ibuku

Jika aku seorang Israel,
Aku akan membawa turis ke perbatasan
untuk menyaksikan gagahnya tentara umat pilihan YHWH
mengambil alih tanah perjanjian
Aku akan tetap membangun suasana akrab dan informal
dengan turis dan tamu yang kubawa,
memperkenalkan setiap inci tempat-tempat bersejarah
di negeri yang berusia ribuan tahun

Jika aku seorang Indonesia,
Yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat konflik
Seharusnya aku tau, peperangan itu bukan milikku
Aku tidak mau terbakar emosi
karena pemberitaan yang tidak kuketahui obyektivitasnya
karena pidato dan pemikiran radikal yang mengelilingiku
karena masih banyaknya masalah disekitarku

Jika aku Tuhan,
Aku tahu kemelut di hati anak manusia
Aku tahu pergulatan emosi seorang pengambil keputusan
Aku tahu perintah atasan yang tak terbantahkan oleh bawahannya
Aku tahu proses yang tidak manusiawi itu malah memanusiakan manusia
Aku tahu nilai seorang manusia yang memilih untuk membunuh sesamanya
Aku tahu semua itu
Tapi Aku memberi kebebasan memilih untuk manusia
Dan keputusan-Ku tak terbantahkan sampai hari penghakiman tiba

Jika aku adalah aku
Aku akan bertanya pada Tuhan, apa yang menjadi bagianku
Aku akan memandang tidak dari sudut pandang manapun kecuali diriku sendiri
Aku memihak yang benar, bahkan yang paling benar yaitu Kebenaran Firman Allah
Peperangan di Timur Tengah boleh berlangsung puluhan hari atau bahkan puluhan tahun
Tapi perjuangan dalam diriku sendiri sampai akhir hayat
Mencari makna hidup dalam tubuh yang fana
Mencari tujuan hidup yang kujalani
Menjalani visi hidup yang kupertajam hari lepas hari
Aku bukan pejuang Hamas
Aku bukan politisi Fatah
Aku bukan tentara Israel
Aku bukan agen rahasia Amerika
Aku bukan provokator
Aku bukan demonstran
Aku bukan oportunis
Aku bukan Tuhan
Aku bukan kamu
Aku adalah aku, ingat itu.

10 November 2008

I'm sorry, Amrozi

I'm sorry, Amrozi, Ali Gufron, and Imam Samudra. But I don't think any of you deserve to be in the news all over the country after all you did to us! Your aliases outnumbered most celebrities or even athletes. You and your friends have at least 5 different names. I raise my hat for your creativity. Here, let me add some more on your account: terrorist, bomber, criminal, fanatic, lunatic, pro-death. Feel free to use those names when you're asked by angels in the afterlife. Whatever your aliases are, you don't deserve the highlight.
Who'd want to have their kids to look up to a criminal like you, anyway? Get a life, man. Oops, I forgot you lost one already.. Serves you right!

05 November 2008

WWW

Inspiring. Mind changing. Motivating. Refreshing. Creating network.

Those types of comments are the ones I want to hear from the participants of WWW (work with words) held by Kajadu on Nov. 7-9, 2008. I'll be there as a moderator for two sessions and MC for opening service. Sometimes I just feel not worth it to be a moderator, since I myself currently not a productive writer.. Give the best and God will do the rest, that's what makes me strong.

14 October 2008

Light reading

I found a good Q&As in strobist.com that helps read light-setup. Here goes..

Q: Where did the light come from?
A: The shadows will tell you.

Q: Were there multiple sources?
A: If the light appears to be coming from multiple directions (assuming no mirrors) probably. Also check for inconsistent shadows.

Q: Was the strobe light balanced?
A: Well, do the florescents look, say, white? There you go. Ditto tungsten, etc.

Q: Is the light falling over a small, restricted area?
A: Snoot or grid.

Q: What is the easiest way to check the style of the front light in a portrait?
A: Eyes make good mirrors to see the light sources. If they are wearing sunglasses, you are golden. Unless they Photoshopped it. And no, you cannot do that if you are a journalist. And if you are a Strobist, you shouldn't have to.

Q: Was the light nearby?
A: Check how fast it falls off as it travels across the subject. Fast? Yes. Slow or none? No.

Q: Was the light source large?
A: Depends on how close it is. A small, shoe-mount flash head looks like a softbox from 2" away on a macro shot. The sun, which is the largest light source you'll likely be using, is pretty hard because of the 93,000,000 mile thing. It is all about how big the light appears to the subject.

Q: Is that light strobe or continuous?
A: That can be a toughie. You can use available light effectively enough to fool people.

Q: How did they get that overcast sky so neon blue?
A: Set the camera balance to tungsten, which renders the formerly neutral clouds blue. Underexpose the sky (to, say, a stop below medium grey) for more of an effect. Then, CTO-gel the flash lighting your subject to render the light hitting it as white and you have the effect.

Q: This is starting to sound random and incoherent. Are you OK?
A: Yes, it is. And no, I am not. I am home sick from work today, feeling like I got runover by a train. I will add more to it later when I am more lucid.

11 September 2008

Suffering

We will match your capacity
to inflict suffering
with our ability
to endure suffering.
- Rev. Martin Luther King, Jr.

09 September 2008

Tujuan Pernikahan

Dating workshop yg diadain LK3 hari Kamis lalu seru banget. Saya ditanya apa tujuannya mau menikah sama Anna.. Dikasih waktu 1 menit. Celingak-celinguk.. Saya ngelirik ke Anna, dia cuma senyum penuh arti, atau malah tanpa arti? Gak tau deh, hehe.. Wah, cilaka..

Akhirnya saya memberanikan diri ngasi 2 alasan:
* Karena kita 'nyambung'
Kalo nanti suatu hari udah gak nyambung lagi gimana? ...hening... iya ya, gimana ya? saya tanya dalam hati..
Pak Julianto bilang alasan itu kurang kuat, nanti tolong dipertajam lagi.
Oke, oke.
* Mau punya keturunan
Kalo ternyata mandul gimana? Kalo ini sih udah pernah diobrolin, kita dengan mantap bisa bilang adopsi aja.

Yang lucu adalah waktu yg udah nikah belasan tahun ditanya, ternyata jawaban mereka juga gak jauh2 dari jawaban kita yg baru pacaran. Jadi, yang bener itu adalah: (ada di buku Surat Izin Menikah, baca sendiri ya)

Bagaimana dengan anda? Apa tujuan anda untuk menikah? Tolong di-share dong..

An email to my sister & brother

Hi mas Tony & mbak Titi,

I know I've never called you mas Tony, but I guess this is a good time to start. You don't mind I add "mas" in front of your name, do you? It's been a long time since the last time I write in English, sorry if there are mistakes here and there.

As you already know, me and Anna are planning to get married next year. We have set the date, it's on the 4th of July, 2009. So sorry to have all of you miss your 4th of July parade next year.. I know you've heard of the date before, but it was unofficial until I spoke with Anna's parents just last night. We already booked the wedding hall, it's Lemigas (the same place you were having) but they don't accept down payment until January.

Last week we were discussing the wedding preparation with our friends, when we talked about wedding rings, it just came to us that we should buy rings soon before Lebaran (idul adha) when prices are rocketing high. Two days ago on Sunday, we went to a jewelery store that belongs to the parents of one of Anna's student and we ordered a pair of rings just like the one that we really liked in one of a wedding magz, it's gold (not white gold) with zircon (small shining stone like diamond). We got a real bargain and it should be ready in a month. Anyway the sizes are: Anna is using size 12, mine is 22. I can't believe how big my fingers are :)

Ok, that's it for now I have to get back to work. Kiss kiss for Becca & Heather.. Ciao

13 August 2008

Medali untuk Indonesia!

Pagi ini liat2 status medali di Olimpiade Beijing, eehhh.. Indonesia di urutan 32! Hebattt..Ini tampang mas2 yg nyumbangin medali perunggu buat Indonesia:
TRIYATNO: atlet angkat besi kelas 62kg
IRAWAN Eko Yuli: atlet angkat besi kelas 56kg

29 July 2008

A respond to A Cong story

Tadi pagi gw dapet email sbb.:

Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. Ada seorang laki2 paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong. Miskin harta, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu
mendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta . A Cong diangkat menjadi CEO (chief exec.officer) atau penanggung jawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.
Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani.
Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah Gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.
Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak .. ! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di Gerejanya. A Cong datang dipintu Gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera bablas lagi. Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan2 ..... Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi : Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki2 Tionghoa), kenapa Encek saben hari datang jam 12 begini, cuman berdiri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet2 pergi?" Kaget, si A Cong menjawab tersipu: "Hah?!...
Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali."
Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?"
Jawab A Cong dengan polos: "Ngga ada apa2. Benel Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah ." Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.
Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan kerumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman2 pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2. Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.
Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh, Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek ' kan serius?" Acong tercenung dan menjawab "saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang kaki owe, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus Kristus. Gimana owe
nggak seneng, coba..."

Moral of the story :
Sesibuk-sibuknya kita, sisihkan waktumu, untuk selalu bersama Tuhan Yesus, ..



my reply:

Guys,
Gue bilang ini HOAX.. Kalopun orang ini beneran ada (si A Cong), jujur aja gw ragu sama keimanannya yg diangkat di cerita ini.
1. Alkitab mengajarkan kita utk "kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" (Mat 19). Kalo orang bisa mengasihi orang lain lebih dari dia mengasihi dirinya sendiri, apa itu kasih yang bener?? Bukti A Cong gak mengasihi dirinya sendiri adalah dia nggak punya waktu utk dirinya sendiri, untuk makan.
2. Ngomong soal kegiatan (sprt yang A Cong tunjukkan dgn mengunjungi gereja utk buat tanda salib dan kemudian lgsg kabur), gw gak bilang itu salah. Tapi gw bilang kalo itu sekadar kebiasaan, ritual, rutinitas, apa artinya di hadapan Tuhan? Baru 2 hari lalu gw merenungkan soal quality time. Ada 2 hal:
a) Quality time itu penting banget karena seringkali kita gak punya banyak waktu (mis. di rumah atau dgn pacar) jadi dalam waktu yg sebentar itu kita harus membuat quality time. Quality time yg dimaksud itu adalah waktu dimana ada komunikasi yang mendalam, ada keintiman, kejujuran, ketulusan, saling pengertian, saling membangun (no bragging, no bullsh**)
b) Quality time itu DIBUAT, bukan mengharapkan keajaiban atau mujizat.
c) Untuk mendapatkan/mencapai Quality Time itu gak mudah, harus menyiapkan hati, gak bisa ujug2 (instant) harus ada "pemanasan" dulu walaupun mgkn pemanasannya menghabiskan 90% dari waktu itu dan bahkan gak bisa sering2, tapi gapapa yg penting ada quality time.
Jadi apakah dengan A Cong datang ke gereja tiap hari utk "laporan" itu bisa dibilang quality time? It's up to you to decide.
Sorry kalo gw terkesan skeptic, tapi kita harus lebih hati2 dengan hal2 (baca: pengajaran) seperti ini. Jangan kita dibutakan oleh hal2 sentimentil semata atau hal2 yg terlihat rohani, tapi berpeganglah pada firman Tuhan.
Begitu juga halnya dengan pelayanan kita. Kalau kita menghabiskan begitu banyak waktu di gereja, pelayanan ini-itu, mengadakan kebaktian, PA, PD, komsel/KTB, vokal grup, jadi organis, liturgos, pembaca alkitab, penyambut jemaat, pengedar kantong kolekte, mengadakan retret, baksos, KLASIS, SINODE ataupun komunikasi lintas agama, tapi kalo kita gak pernah punya quality time dengan orang tua, kakak/adik, istri/suami dan anak (kalo udah berkeluarga) dan gak punya waktu utk Tuhan, mari kita re-schedule kegiatan2 kita.
Jangan sampai "kesucian" kita tampilkan diluar tapi isinya rapuh. Jadi inget iklan susu berkalsium :))
Jangan sampai pelayanan poooolll, tapi sama ortu gak cocok, sama kakak/adik cekcok, sama pacar gondok, sama temen mabok. Pelayanan dijadikan tameng dan gereja dijadikan tempat utk "get away from home". Mari kita bangun fondasi dengan kuat di lingkungan terkecil kita, yaitu keluarga.

24 July 2008

My new sweet baby - Tivanka!



What do you think about my little new baby Tivanka?
MakeMeBabies.com - What will your baby look like?